Tinjauan Umum Perencanaan Pembangunan Peternakan


Tinjauan Umum Perencanaan Pembangunan Peternakan - Perencanaan Pembangunan Peternakan sebagai bagian integral dari Pembangunan Pertanian dalam arti luas akan selalu mengacu kepada Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Program Pembangunan Daerah (Propeda) Kabupaten Bima. Pembangunan Peternakan pada periode tahun 2011 – 2015 merupakan rangkaian yang berkesinambungan dari kegiatan pembangunan yang telah dilaksanakan sebelumnya dengan berbagai penyempurnaan dan penajaman sebagai antisipasi perubahan lingkungan strategis domestik serta perubahan paradigm pemerintahan daerah dan pembangunan nasional.

Sejalan dengan semangat reformasi, orientasi pembangunan mengarah kepada tuntutan demokrasi, transparansi, good governance dalam manajemen desentralisasi pemerintahan / otonomi daerah, sehingga sangat berpengaruh terhadap arah pembangunan baik nasional maupun daerah

Pembangunan peternakan di Indonesia memiliki prospek yang cerah dimasa yang akan datang, hal ini disebabkan karena besarnya jumlah penduduk sehingga secara matematis permintaan akan produk peternakan seperti daging, telur dan susu akan semakin meningkat pula. Salah satu sub sektor peternakan yang berperan dalam penyediaan protein hewani adalah dibidang perunggasan. Telur merupakan salah satu bahan pangan hewani yang paling lengkap gizinya. Menurut Sudaryani (1999), kandungan gizi telur ayam dengan berat 50 gram terdiri dari protein 6,3 gram, karbohidrat 0,6 gram, lemak 5 gram, vitamin dan mineral.

Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Peternakan mempunyai Tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah bidang peternakan berdasarkan azas otonomi dan tugas pembantuan
Dinas Peternakan dalam melaksanakan tugas menyelenggarakan fungsinya sebagai berikut :
  1. Perumusan kebijakan teknis bidang peternakan
  2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum bidang peternakan
  3. Pembinaan dan pelaksnaan tugas bidang peternakan
  4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.


Untuk melaksanakan sebagian kegiatan teknis operasional yang mempunyai wilayah kerja satu atau beberapa kecamatan dilaksanakan oleh Unit Pelaksana Teknis Dinas.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada 11 Juni 2005 telah mencanangkan program nasional Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. Menindaklanjuti program tersebut Departemen Pertanian merumuskan Rencana Aksi Pemantapan Ketahanan Pangan, dalam aksi tersebut ditetapkan lima komoditas pangan strategis diantaranya adalah daging sapi yang merupakan komoditas unggulan sub-sektor peternakan.

Secara khusus komoditas unggulan ternak sapi mendapat perhatian utama mengingat fakta bahwa Indonesia sangat bergantung kepada pemenuhan daging dari luar negeri. Untuk menjawab tantangan swasembada daging, Departemen Pertanian menetapkan “Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi 2014. Begitu pentingnya Program Nasional tersebut Presiden RI SBY mengulangnya kembali dalam pidatonya didepan para peternak di Doro Ncanga Kabupaten Dompu pada 6 April 2006 yang lalu.

Berangkat dari besarnya komitmen pemerintah pusat terhadap pemenuhan kebutuhan daging sapi nasional, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mencanangkan program terobosan yaitu “NTB Bumi Sejuta Sapi”. Peternakan sapi merupakan sumber daya lokal masyarakat NTB pada umumnya dan lebih khusus masyarakat Kabupaten Bima yang telah tumbuh kembang, membudaya dan terbukti memberikan sumbangan besar terhadap kesejahteraan masyarakat dan memberikan kontribusi bagi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kontribusi ternak sapi terhadap pengembangan sapi dan kebutuhan daging baik secara lokal maupun nasional sangatlah signifikan. Kabupaten Bima setiap tahun mampu mengirim sapi potong tidak kurang dari 5.000 ekor ke pelbagai provinsi di Indonesia seperti Jakarta, Kalimantan, dan Pulau Jawa secara umum.

Adapun sasaran pembangunan peternakan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut :

  • Meningkatnya kesejahteraan masyarakat peternak melalui peningkatan pendapatan hasil peternakan.
  • Meningkatnya populasi ternak melalui peningkatan jumlah kepemilikan ternak masyarakat.
  • Meningkatnya produksi dan produktivitas ternak melalui peningkatan derajat kesehatan ternak, penanganan dan manajemen pemeliharaan ternak yang baik.
  • Meningkatnya produksi hasil pengolahan produk peternakan melalui penerapan tekhnologi pengolahan hasil peternakan.
  • Meningkatnya ketersediaan pakan sepanjang tahun melalui pemanfaatan sumber daya lahan dan air.
  • Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam pembangunan dibidang peternakan berkelanjutan.
  • Meningkatnya pemasaran produk hasil peternakan melalui promosi dan kesetabilan harga pasar.
  • Meningkatnya jumlah investor dibidang peternakan melalui iklim investasi yang baik dan kondusif.