Jerami dan kelapa sawit sebagai salah satu bahan pakan secara inkonvensional

Jerami dan kelapa sawit sebagai salah satu bahan pakan secara inkonvensional
 
•    jerami
 
Jerami tidak asing lagi bagi petani peternak di Indonesia. Hal ini karena ketersediaannya cukup melimpah terutama saat panen raya padi tiba. Jerami tersebut dimanfaatkan sebagai campuran atau makanan ternak jika persediaan hijauan segar tidak mencukupi kebutuhan konsumsi ternak. Kendala keterbatasan jerami sebagai pakan adalah minimnya kandungan nutrisi limbah pertanian tersebut. Jerami umumnya mengandung energi neto yang rendah per satuan berat. Kadar seratnya tinggi, yaitu dalam keadaan kering mengandung serat kasar lebih dari 10%. Sehingga nilai hayati jerami padi sangat rendah. Daya cernanya sekitar 40%, jumlah konsumsinya di bawah 2% bobot badan ternak, dan kadar proteinnya 3%--5%.
 
Rendahnya tingkat kecernaan jerami padi karena ikatan yang terjadi pada jerami padi (selulosa dan hemiselulosa) ini sulit dipecah mikroba rumen. Sehingga, jerami yang dikonsumsi ini pun sulit dicerna dan banyak yang tidak dimanfaatkan pencernaan ruminansia. Dengan melihat komposisi zat nutrisi jerami yang tergolong marginal itu, untuk mencapai hasil optimal dalam penggemukan ternak ruminansia, perlu juga ditambahkan makanan penguat (konsentrat). Jerami padi sangat potensial dihasilkan petani. Dari inventarisasi limbah pertanian Jawa dan Bali, diperoleh hasil produksi limbah pertanian rata-rata 28,7 juta ton/tahun, dan 67,2% berupa jerami padi. Khususnya pada musim kemarau, jerami dapat didayagunakan untuk mengatasi fluktuasi persediaan pakan. Jerami padi merupakan salah satu sumber pakan hijauan amat penting. Kondisi ini terlihat nyata terutama pada daerah-daerah rawan kekeringan seperti di Kabupaten Grobogan, Blora, Rembang, Wonogiri, dan lain-lain.
 
Perbaikan nilai gizi bisa dilakukan melalui pengolahan limbah pertanian secara fisik, kimia, maupun mikrobiologi. Salah satu di antaranya untuk meningkatkan mutu jerami padi dengan menginovasi teknologi berupa amoniasi jerami. Prinsipnya, memperlakukan khusus jerami dengan metode pengolahan menggunakan amonia (NH3).
 
Fungsi amonia di sini untuk menghancurkan ikatan lignin, selulosa, dan silika yang merupakan faktor penghambat utama daya cerna jerami. Di samping itu, juga amonia berperan memuaikan serat selulosa, memudahkan penetrasi enzim selulosa dan mengangkat kandungan protein kasar melalui peresapan nitrogen. Harapannya, dengan adanya jerami amoniasi, petani peternak dapat meningkatkan pemanfaatan jerami hasil limbah pertanian sebagai pakan ternak untuk menunjang tingkat produktivitas ternak.
 
•    Kelapa sawit (solid)
 Pemeliharaan ternak (sapi) sebag usaha sambilan kurang menguntungkan apabila memanfaatkan solid sebagai pakan karena akan menambah biaya produksi, berupa biaya angkut dari pabrik ke lokasi peternak. Kondisi ini dapat menghambat adopsi teknologi pemanfaatan solid. Solid akan dimanfaatkan secara luas oleh peternak apabila pemeliharaan ternak bersifat komersial misalnya penggemukan. Strategi yang dapat ditempuh untuk memaksimumkan pemanfaatan solid sebagai pakan adalah melalui kemitraan antara petani dan pemerintah daerah ataupun pihak swasta. Solid merupakan salah satu limbah padat dari hasil pengolahan minyak sawit kasar.  
 
Di Sumatera, limbah ini dikenal sebagai lumpur sawit, namun solid biasanya sudah dipisahkan dengan cairannya sehingga merupakan limbah padat. Ada dua macam limbah yang dihasilkan pada produksi CPO, yaitu limbah padat dan limbah cair. Saat sekarang ini produksi limbah solid di dua pabrik pengolahan CPO di Kabupaten Kotawaringin Barat sekitar 36−42 t/hari (rata-rata 20 t/pabrik/hari). Jumlah limbah solid yang dihasilkan bergantung pada TBS yang diolah. Produksi TBS akan makin bertambah pada masa mendatang seiring dengan makin luasnya area perkebunan kelapa sawit yang berproduksi. Diharapkan dalam setiap 10.000 ha berdiri satu pabrik  pengolahan CPO.
 
Industri kelapa sawit menghasilkan limbah yang berpotensi sebagai pakan ternak, seperti bungkil inti sawit, serat perasan buah, tandan buah kosong, dan solid . Bungkil inti sawit mempunyai nilai nutrisi yang lebih tinggi dibanding limbah lainnya dengan kandungan protein kasar 15% dan energi kasar 4.230 kkal/kg sehingga dapat berperan sebagai pakan penguat (konsentrat). Namun, bungkil inti sawit di Kalimantan Tengah merupakan komoditas ekspor yang harganya relative mahal sehingga bukan merupakan limbah, dan akan menjadi bahan pakan yang mahal bila diberikan pada ternak. Serat perasan buah dan tandan buah kosong bersama-sama dengan cangkang biasanya dibakar dijadikan abu untuk dimanfaatkanm sebagai pupuk sumber kalium. 
 
Perluasan kebun kelapa sawit di Kalimantan Tengah ditargetkan mencapai area 1.557.752 ha. Apabila tanaman kelapa sawit sudah berproduksi semua, dan setiap 10.000 ha terdapat satu pabrik, maka dalam kebun seluas itu akan terdapat 155 pabrik pengolahan kelapa sawit. Apabila tiap pabrik rata-rata menghasilkan solid 20 t/hari maka setiap hari akan diperoleh 3.100 ton solid. Apabila seekor sapi dapat mengkonsumsi solid + 20 kg/hari (jumlah yang biasa diberikan peternak pada sapi dengan rata-rata bobot badan 250 kg), maka produksi limbah tersebut akan dapat mencukupi kebutuhan pakan bagi + 155.000 ekor sapi/ hari. Dengan demikian, keberadaan perkebunan kelapa sawit sangat menpengembangan peternakan baik dalam skala menengah maupun besar. Apalagi saat ini perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah berkembang cukup pesat dengan target area 1.557.752 ha yang tersebar di Kabupaten Kotawaringin Barat 644.845 ha, Kotawaringin Timur 700.000 ha, dan sisanya 212.857 ha tersebar di Kabupaten Barito Utara, Barito Selatan, Kapuas, dan Palangkaraya. Perkebunan kelapa sawit mempunyai potensi daya dukung untuk pengembangan peternakan sebagai sumber pakan ternak, baik yang berupa hijauan yang tumbuh di kawasan perkebunan maupun limbah pabrik pengolahan minyak kelapa sawit (crude palm oil = CPO). Melalui keterpaduan dengan tanaman perkebunan, upaya pengembangan ternak ternyata menunjukkan hasil yang positif .
 
Kendala utama pengembangan ternak di area perkebunan kelapa sawit adalah rendahnya kandungan gizi rumput alam. Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap berbagai jenis rumput yang tumbuh di perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Kotawaringin Barat menunjukkan kandungan bahan kering 83,15%, protein kasar 7,27%, karbohidrat 14,32%, lemak kasar 1,84%, kalsium 0,08%, fosfor 0,004%, dan energi 102,02 kal/100 g . Jumlahnya pun masih jauh dari mencukupi, terlebih pada musim kemarau. Berdasarkan hasil monitoring, kapasitas tampung ternak mhanya mencapai 0,70 ekor/ha/tahun, jauh lebih rendah dibandingkan bila mengintroduksikan rumput unggul (rumput raja) di kawasan perkebunan dengan kapasitas tampung mampu mencapai 6,06 ekor/ha/tahun. Selain itu, kandungan nutrisinya juga lebih tinggi. Keberhasilan pengembangan peternakan sangat ditentukan oleh penyediaan pakan ternak . Upaya peningkatan produksi ternak tidak cukup hanya dengan memberikan rumput alam saja, tetapi perlu adanya pakan tambahan. Pakan tambahan yang potensial untuk dimanfaatkan adalah limbah kelapa sawit yang berupa “solid” .
 
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa solid berpotensi sebagai sumber nutrisi baru untuk ternak dengan kandungan bahan kering 81,56%, protein kasar 12,63%, serat kasar 9,98%, lemak kasar 7,12%, kalsium 0,03%, fosfor 0,003%, dan energi 154 kal/100 g (Utomo et al. 1999). Pada uji preferensi terhadap 25 ekor sapi Madura, solid pada akhirnya sangat disukai, namun perlu waktu adaptasi 4−5 hari.
 
Pemanfaatan solid sebagai pakan ternak diharapkan dapat membantu mengatasi masalah ketersediaan pakan terutama pada musim kemarau, serta meningkatkan produktivitas ternak. Ratarata pertambahan bobot badan harian(PBBH) sapi milik petani di Kabupaten Kotawaringin Barat yang tidak diberi pakan solid jauh di bawah PBBH ternak yang diberi solid, yaitu hanya 250 g/ekor/ hari . Hal ini disebabkan kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan, dalam hal ini rumput alam, relatif rendah.

0 komentar:

Post a Comment